Pantun Baduy

PANTUN BADUY PENGUKUH TRADISI INTI JAGAD

R. Cecep Eka Permana
Cecep04@ui.edu atau cecep1permana@yahoo.com
Program Studi Arkeologi—Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Kampus UI Depok 16424 Telp. 021 78886104

Abstrak

Masyarakat Suku Baduy sampai sekarang masih hidup bersahaja di pegunungan pedalaman Banten Selatan, tepatnya berada di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Mata pencaharian utamanya adalah menanam padi secara perladangan berpindah. Menanam padi di ladang (ngahuma) pada dasarnya merupakan ritual mengawinkan Dewi Padi bernama Nyi Pohaci Sang Hyang Asri dengan bumi. Selain itu, masyarakat Baduy menganggap dirinya sebagai cikal bakal kehidupan di bumi, dan menganggap wilayahnya sebagai inti bumi atau inti jagad. Setiap insan Baduy berkewajiban menjaga dan memelihara inti jagad itu, antara lain dengan ibadah menanam padi (mengawinkan Nyi Pohaci). Terpelihara dan sejahtera inti jagad berarti terpelihara dan sejahtera pula seluruh jagad raya.

Untuk menjaga kemurnian inti jagad, masyarakat Baduy harus tetap mempertahankan adat, tradisi, dan perikehidupan seperti apa adanya warisan leluhur nenek moyang (karuhun). Aturan tradisional tersebut termuat dalam adat pokok (pikukuh) yang antara lain menyatakan bahwa ”lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambungan” (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung), dan ”larang teu meunang dirempak, buyut teu meunang dirobah” (larangan tidak boleh dilanggar, tabu tidak boleh diubah). Aturan adat ketat tersebut terutama dilaksanakan oleh warga masyarakat Baduy Dalam (tangtu/kajeroan) yang menghuni di tiga kampung suci: Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Bagi mereka yang melanggar ketentuan dan kemurnian adat, maka akan dikeluarkan dari tangtu dan selanjutnya menetap di wilayah Baduy Luar (panamping).

Salah satu pengejawantahan dari pikukuh tersebut adalah masyarakat Baduy harus tetap mempertahankan tradisi lisannya lewat tuturan yang disebut pantun. Yang dimaksud dengan pantun di sini bukan suatu karya sastra, melainkan tuturan tentang aturan dan ajaran adat, doa dan puja pada Yang Kuasa, mitologi dan legenda jejak leluhur, serta aturan dan ajaran sendi kehidupan. Pantun dilantunkan oleh sang ahli yang disebut juru pantun, terutama pada upacara atau ritual adat, keagamaan, dan daur hidup. Dalam praktiknya, juru pantun tidak dapat menuturkan pantunnya diluar upacara atau ritual yang bersangkutan. Tiap-tiap upacara memiliki pantunnya sendiri-sendiri.

Dalam kaitannya dengan adat, pantun terutama dituturkan pada rangkaian upacara atau ritual berladang, meliputi upacara awal menanam padi (ngaseuk) sejak dari lumbung (leuit) hingga ladang (huma); memelihara padi atau disebut juga mengobati padi (ngirab sawan) ketika bulir padi mulai berisi; dan panen (mipit dan nganyaran) sejak menuai hingga memakan padi pertama. Dalam kaitannya dengan keagamaan, pantun dituturkan pada upacara pemujaan pada leluhur (muja) yang diselenggarakan di pusat inti jagad bernama Sasaka Domas. Adapun dalam kaitannya dengan daur hidup, pantun dituturkan pada upacara kelahiran, perkawinan, dan kematian. Tidak lengkap rukun upacara tradisional Baduy tanpa pantun. Pantun menjadi pesan dan sekaligus saluran komunikasi dan pengetahuan tradisional masyarakat Baduy. Pantun yang sarat akan aturan adat, keagamaan, dan ajaran perikehidupan itu, tak pelak menjadi pengukuh tradisi Baduy yang masih menabukan tradisi tulis, buyut teu meunang dirobah!!!.

Kata Kunci: Pantun, Baduy, Adat dan Tradisi

PANTUN BADUY PENGUKUH TRADISI INTI JAGAD

R. Cecep Eka Permana

PEMBUKA

Masyarakat Suku Baduy sampai sekarang masih hidup bersahaja di pegunungan pedalaman Banten Selatan, tepatnya berada di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Wilayah Baduy memiliki luas sekitar 5.101,85 hektar. Luas wilayah sekarang itu lebih kecil daripada masa-masa sebelumnya. Menurut laporan A.J. Spaan (1867) dan B. van Tricht (1929), pada akhir abad ke-18 wilayah Baduy terbentang mulai dari Kecamatan Leuwidamar sekarang sampai ke pantai selatan. Batas desa seperti yang ada sekarang ini dibuat pada permulaan abad ke-20 bersamaan dengan pembukaan perkebunan karet di desa Leuwidamar dan sekitarnya. Sementara itu, menurut perkiraan Judhistira Garna, luas wilayah Baduy meliputi beberapa kecamatan, seperti Muncang, Sajira, Cimarga, Maja, Bojongmanik dan Leuwidamar (Garna, 1993: 124- 135).

Penamaan komunitas tersebut dengan sebutan ”orang Baduy” atau ”urang Baduy” awalnya bukanlah berasal dari mereka sendiri. Istilah “baduy” diberikan oleh orang-orang di luar wilayah Baduy. Nama ”baduy” diberikan mengikuti nama sungai Cibaduy yang mengalir tidak jauh dari wilayah ini. Dalam laporan etnografi yang dibuat oleh orang Belanda disebut dengan badoe’i, badoei, dan badoewi (Hoevell 1845, Jacob dan Meijer 1891, Pleyte 1909). Bahkan, pada tahun 1980, ketika Kartu Tanda Penduduk (KTP) diperkenalkan di daerah itu hampir semua penduduk tidak menolak sebutan Orang Baduy. Bagi yang kurang berkenan dengan sebutan tersebut, biasanya menggunakan sebutan “urang Kanekes” (sesuai dengan sebutan nama wilayahnya). Selain itu, mereka biasa pula dengan menyebut asal kampung mereka, seperti “urang Cibeo” (nama salah satu kampung Baduy Dalam), “urang tangtu” (sebutan untuk warga Baduy Dalam), dan “urang panamping” (sebutan untuk warga Baduy Luar) (Garna, 1993: 120).

Masyarakat Baduy terbagi menjadi tiga bagian, yaitu tangtu, panamping, dan dangka. Tangtu dan panamping berada pada wilayah desa Kanekes, sedangkan dangka terdapat di luar desa Kanekes. Bila dilihat berdasarkan kesucian dan ketaatannya kepada adat, tangtu lebih tinggi dibanding panamping, dan panamping lebih tinggi dibandingkan dangka. Namun, pembagian yang sering digunakan adalah tangtu merujuk pada masyarakat Baduy Dalam, sedangkan panamping dan dangka merujuk pada masyarakat Baduy Luar (Permana, 2006:27-28).

Terdapat dua sistem pemerintahan pada masyarakat Baduy, yaitu sistem nasional dan sistem tradisional (adat). Dalam sistem nasional, masyarakat Baduy termasuk dalam wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, setiap desa terdiri atas sejumlah kampung. Di daerah Baduy kampung-kampung tersebut terbagi menjadi kelompok kampung tangtu, kelompok kampung panamping, dan kelompok kampung dangka. Kecuali di kelompok kampung tangtu, terdapat juga RK (Rukun Kampung) yang disebut kokolotan lembur pada setiap kampung.

Desa Kanekes ini dipimpin oleh kepala desa yang disebut Jaro Pamarentah (dahulu disebut Jaro Warega, lalu pada jaman kolonial disebut Jaro Gubernemen). Seperti kepala desa atau lurah di desa lain, ia berada di bawah camat, kecuali untuk urusan adat yang tunduk kepada kepala pemerintahan tradisional (adat) yang disebut puun. Uniknya bahwa bila kepala desa lainnya dipilih oleh warga, tetapi untuk Kanekes ditunjuk oleh puun, baru kemudian diajukan kepada bupati (melalui camat) untuk dikukuhkan sebagai kepala desa.

Secara tradisional pemerintahan pada masyarakat Baduy bercorak kesukuan yang disebut kapuunan, karena puun menjadi pimpinan tertinggi. Puun di wilayah Baduy ini ada tiga orang, masing-masing puun Cikeusik, puun Cibeo, dan puun Cikartawana. Puun-puun ini merupakan “tritunggal”, karena selain berkuasa di wilayahnya masing-masing, juga secara bersama-sama memegang kekuasaan pemerintah tradisional masyarakat Baduy. Walaupun merupakan satu kesatuan kekuatan, ketiga puun tersebut juga mempunyai wewenang tugas yang berlainan. Wewenang kapuunan Cikeusik menyangkut urusan keagamaan dan ketua pengadilan adat, yang menentukan pelaksanaan upacara-upacara (seren tahun, kawalu, dan seba), dan memutuskan hukuman bagi para pelanggar adat. Wewenang kapuunan Cibeo menyangkut pelayanan kepada warga dan tamu ke kawasan Baduy, termasuk pada urusan administratur tertib wilayah, pelintas batas dan berhubungan dengan daerah luar. Adapun wewenang kapuunan Cikartawana menyangkut urusan pembinaan warga, kesejahteraan, keamanan, atau sebagai badan pelaksana langsung di lapangan yang memonitor permasalahan yang berhubungan dengan kawasan Baduy.

Dalam kesehariannya, Orang Baduy hidup secara bersahaja. Kesahajaan Orang Baduy ditunjukkan antara lain dari rumah dan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari bahan-bahan lingkungan sekitar, seperti kayu, bambu, ijuk, dan rotan dalam bentuk yang relatif sama pada semua warga. Pakaian yang dikenakan sehari-hari dari dahulu hingga sekarang hanyalah hasil tenunan tangan setempat yang berwarna putih dan/atau hitam. Mata pencaharian yang turun-temurun mereka lakukan berupa menanam padi secara perladangan berpindah dengan paralatan yang sederhana seperti golok, kored, dan tugal. Menanam padi di ladang (ngahuma) pada dasarnya merupakan ritual mengawinkan Dewi Padi bernama Nyi Pohaci Sang Hyang Asri dengan bumi.

PIKUKUH

Masyarakat Baduy tidak menganut agama Islam, Kristen, Hindu, atau Budha. Keyakinan mereka sering disebut dengan Sunda Wiwitan atau agama Sunda Wiwitan. Orientasi, konsep-konsep dan kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh (ketentuan adat mutlak) agar supaya orang hidup menurut alur itu dan menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia pada umumnya. Pusat pemujaan mereka berada di puncak gunung yang disebut Sasaka Domas atau Sasaka Pusaka Buana. Obyek pemujaan ini pada dasarnya merupakan sisa kompleks peninggalan megalitik berupa bangunan berundak atau berteras-teras dengan sejumlah menhir dan arca di atasnya. Inilah yang dianggap oleh orang Baduy sebagai tempat berkumpulnya para karuhun atau nenek moyang (Permana, 2006:38).

Menurut keyakinan masyarakat Baduy, kekuasaan tertinggi berada pada Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki), Sang Hiyang Keresa (Yang Maha Kuasa), atau Batara Tunggal (Yang Mahaesa). Orientasi, konsep-konsep dan kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh (ketentuan adat mutlak) agar supaya orang hidup menurut alur itu dan menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia ramai. Menurut keyakinan mereka, orang Baduy berasal dari hierarki tua, sedangkan dunia ramai (di luar Baduy) merupakan keturunan yang lebih muda. Orang Baduy bertugas menyejahterakan dunia melalui tapa (perbuatan, bekerja) dan pikukuh. Bila wilayah Baduy, yang dianggap sebagai pancer bumi (inti jagat atau pusat dunia) selalu terpelihara dengan baik, maka seluruh kehidupan akan aman sejahtera. Konsep keagamaan dan adat terpenting yang menjadi inti pikukuh Baduy adalah “tanpa perubahan apa pun”, seperti tertuang dalam buyut (tabu) titipan karuhun (nenek moyang) sebagai berikut:

buyut nu dititipkeun ka puun
nagara satelung puluh telu
bangsawan sawidak lima
pancer salawe nagara
gunung teu meunang dilebur
lebak teu meunang diruksak
larangan teu meunang dirempak
buyut teu meunang dirobah
lojor teu meunang dipotong
pondok teu meunang disambung
nu lain kudu dilainkeun
nu ulah kudu diulahkeun
nu enya kudu dienyakeun

Artinya:
buyut yang dititipkan kepada puun
negara tigapuluhtiga
sungai enampuluhlima
pusat duapuluhlima negara
gunung tak boleh dihancur
lembah tak boleh dirusak
larangan tak boleh dilanggar
buyut tak boleh diubah
panjang tak boleh dipotong
pendek tak boleh disambung
yang bukan harus ditiadakan
yang lain harus dipandang lain
yang benar harus dibenarkan
(Garna, 1988:53-54, 1993a:139)

Pikukuh merupakan aturan dalam Sunda Wiwitan yang tidak terlepas dari ketentuan untuk: (1) ngabaratapakeun, melakukan tapa terhadap inti jagat dan dunia, (2) ngareremokeun, menghormati dengan menjodohkan Dewi Padi yang disebut Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dan (3) mengekalkan pikukuh dengan melaksanakan semua ketentuan yang ada (Garna, 1994:15).
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi.

Istilah buyut di atas mengandung pengertian semacam tabu atau pantangan. Menurut masyarakat Baduy, buyut sesungguhnya berarti segala sesuatu yang melanggar pikukuh, terbagai atas buyut adam tunggal dan buyut nahun. Buyut adam tunggal berarti tabu pokok beserta tabu-tabu kecil lainnya (tanpa kecuali) yang berlaku untuk orang tangtu. Sementara itu, buyut nahun merupakan tabu berdasarkan hal-hal yang pokok saja, dan berlaku untuk orang panamping dan dangka. Contoh dari dua jenis buyut ini adalah tabu bagi orang tangtu mengolah tanah pertanian menjadi sawah dan menanam tanaman tertentu seperti kopi dan cengkeh. Namun, bagi orang panamping dan dangka , walaupun tabu pertanian bersawah diikuti, tetapi mereka menanam kopi dan cengkeh.

Aturan adat ketat tersebut terutama dilaksanakan oleh warga masyarakat Baduy Dalam (tangtu/kajeroan) yang menghuni di tiga kampung suci: Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Bagi mereka yang melanggar ketentuan dan kemurnian adat, maka akan dikeluarkan dari tangtu dan selanjutnya menetap di wilayah Baduy Luar (panamping).

PANTUN BADUY

Salah satu pengejawantahan dari pikukuh, maka masyarakat Baduy tetap mempertahankan tradisi aslinya. Sedari dulu hingga sekarang masyarakat Baduy ditabukan oleh adat untuk menggunakan tradisi tulis. Oleh karena itu, masyarakat Baduy tetap dilarang untuk mengenyam pendidikan formal (sekolah), meskipun sudah banyak sekolah didirikan di sekitar wilayah mereka.

Dalam rangka pewarisan pengetahuan, aturan dan adat istiadat Baduy, menurut pikukuh yang berlaku, dilakukan secara lisan baik dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari pimpinan adat tertinggi kepada perangkat adat di bawahnya, dari tokoh masyarakat (kokolot) kepada warganya, maupun dari orang tua kepada anaknya. Saluran atau media penyampian pengetahuan adat tersebut misalnya dilakukan lewat tuturan yang disebut pantun. Yang dimaksud dengan pantun di sini bukan sepenuhnya suatu karya sastra, melainkan lebih pada tuturan tentang aturan dan ajaran adat, doa dan puja pada Yang Kuasa, mitologi dan legenda jejak leluhur, serta aturan dan ajaran sendi kehidupan. Pantun dilantunkan oleh sang ahli yang disebut juru pantun atau tukang mantun. Dalam praktiknya, juru pantun tidak dapat menuturkan pantunnya diluar upacara atau ritual yang bersangkutan.

Secara umum pantun Baduy terbagi atas pantun yang bersifat ritual adat, dan pantun yang merupakan syarat selamatan atau hajatan keluarga. Meskipun demikian, baik pantun ritual maupun pantun selamatan memiliki persyaratan yang sama bagi juru pantunnya, seperti sebelum memulai acara harus didahului dengan pembersihan/penyucian diri (mandi), dan membakar (ngukus) akar tanaman jamaka (Dianella montana) suatu tanaman dari famili uphorbiaceae sehingga menimbulkan wewangian. Jika tidak ada, maka yang mengadakan hajatan (lancuran) atau tuan rumah (nu boga imah) dapat menggantikannya dengan menyan (getah yang dikristalkan dari tanaman Styrax benzoin dari famili Styraceae).

Setiap cerita pantun selalu dimulai dengan semacam doa (rajah), antara lain:

“Awaking dek make pasaduan ka luhur
Ka sang rumuhun kandap ka batara batari…. dst”
Artinya:
“Saya mohon ijin para leluhur di atas
kepada para dewa dan dewi di bawah…. dst”

(maaf, karena doa termasuk yang bersifat rahasia/tertutup, maka tidak dapat disampaikan secara lengkap)

Pantun juga diakhiri dengan mengumandangkan doa penutup (rajah pamugkas).

Pantun Baduy dibawakan dengan nyanyian dengan “lagu” yang khas dan diiringi oleh alat musik kecapi. Juru Pantun Baduy lebih suka membawakan pantunnya pada hari sabtu malam. Tidak diketahui alasan pasti tentang pemilihan waktu tersebut. Tetapi yang pasti di wilayah Baduy menyanyikan pantun dilarang (buyut, teu kongang, teu kawasa) dilaksanakan pada waktu siang hari.

a. Pantun dalam Ritual Perladangan

Dalam kaitannya dengan ritual adat, khususnya perladangan, kegiatan mantun dilakukan pada upacara ngaseuk, yang berarti kegiatan menugal, yaitu membuat lubang(-lubang) kecil dengan menggunakan aseukan (tugal) untuk menanam benih padi. Dalam tradisi Sunda Wiwitan, masa ngaseuk adalah masa ngareremokeun (mengawinkan) padi yang diberi nama sangat indah, agung dan puitis: Nu Geulis Nyai Pohaci Sri Sanghyang Tresnawati (Asri) dengan Tanah atau Bumi. Pantun dan sekaligus doa yang dilantunkan berkaitan dengan hal ini antara lain:

Weweg sampeg, mandala pageuh
Mangka tetep mangka langgeng
Mangka langgeng tunggal tineung
Datang hiji datang dua
Datang tilu nungku nungku
Datang opat ngawun ngawun
Datang lima lingga emas
Datang genep nguren nguren
Datang tujuh lilimbungan
Puluhan tanpa wilangan
Artinya:
Kukuh kuat tempat yang teguh
Semoga tetap semoga lestari
Semoga sentosa menyatu kasih
Datang satu datang dua
Datang tiga berangkulan
Datang empat berpasangan
Datang lima lingga emas
Datang enam berpasangan
Datang tujuh menyatu kasih
Berpuluh-puluh tidak terhitung

Sebelumnya bahkan dipantunkan:

Tabe, Nyi Pohaci Sang Hyang Asri
Hayu urang ngalih ka weweg sampeg
Ka mandala pageuh
Mangka tetep mangka langgeng
Balik ka imah beurang keneh
Artinya:
Maaf, Nyi Pohaci Sang Hyang Asri
Mari kita pindah ke tempat yang kukuh kuat
Ke tempat yang teguh
Semoga abadi semoga lestari
Pulang ke rumah (mumpung hari) masih siang

Ketika padi sudah semakin tumbuh tinggi dan berbulir, maka dilakukan upacara ngirab sawan, yakni membersihkan dan membuang sampah atau tanaman pengganggu padi lainnya. Saat ini dibuat berbagai sesajen dan “ramuan obat” untuk padi. Pada saat ini pula dilakukan acara memantun oleh juru pantun di rumah kokolot lembur (rumah tetua adat kampung). Lalakon yang dibawakan bersumber dari cerita “Langgasari” yang pada intinya mengisahkan seorang raja, Prabu Langgasari, pergi menghadap Nyi Pohaci Sang Hyang Asri di Bumi Suci Alam Padang untuk menanyakan obat padi agar tumbuh subur dan baik. Petunjuk yang diperoleh kemudian disampaikan kepada rakyatnya untuk dilaksanakan, dan berlaku seperti yang dilakukan hingga kini. Selain itu, lalakon yang sering juga dibawakan bersumber dari cerita “Lutung Kasarung”, terutama pada kisah perjalanan Sanghyang Guruminda dari kahyangan turun ke Buana Panca Tengah (bumi) mengajarkan cara cara berladang yang baik.

Ketika kegiatan memetik atau menuai padi pertama (mipit) juga dilakukan acara memantun. Lalakon yang dibawakan juga bersumber dari cerita “Langgasari” dan “Lutung Kasarung”. Pada kegiatan ngirap sawan pantun berfokus pada cerita tentang bagaimana merawat atau memelihara padi, sedangkan pada kegiatan mipit pantun berfokus pada cerita bagaimana memperlakukan bulir-bulir padi yang baru dipetik menggunakan ani-ani, diikat, dikeringkan, dan dibawa untuk ddisimpan di lumbung (leuit).

b. Pantun dalam Selamatan Keluarga

Pantun sesungguhnya bagi orang Baduy bukanlah sebuah tontonan, melainkan suatu syarat upacara atau selamatan. Pantun dalam rangka selamatan keluarga hanya didengarkan oleh keluarga yang punya hajatan (nu boga imah). Pantun dilaksanakan pada malam hari, biasanya mulai sekitar pukul 21.00—22.00 hingga pukul 03.00—04.00 WIB dengan jeda sekitar satu jam sambil menyantap nasi uduk dan air putih. Cerita (lalakon) pantun dibawakan secara monolog, tetapi dalam dialog tukang mantun dapat membuat suasananya seperti terdapat pembicara laki-laki dan pembicara perempuan.

Tema cerita (lalakon) bergantung pada tujuan selamatan. Pantun untuk selamatan perkawinan berbeda dengan selamatan sunatan. Lalakon pantun umumnya menceritakan tentang kehidupan keseharian sebagaimana sebaiknya seorang insan Baduy berpikir dan berperilaku. Kadang lalakon pantun sebenarnya tidak terlalu panjang, namun dengan keahlian dan kelebihan yang dimiliki oleh juru pantun, maka acara mantun tersebut dapat berlangsung lama. Namun yang pasti tidak ada kegiatan memantun untuk selamatan atau upacara kelahiran dan kematian.

Untuk selamatan perkawinan, pantun yang biasa dibawakan adalah lalakon “Aja Lumantang”. Lalakon ini mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari seperti halnya masyarakat Baduy. Aja Lumantang sebagai tokoh sentral diceritakan memberikan berbagai teladan dan ajaran kehidupan. Karena lakon ini disampaikan dalam selamatan perkawinan, maka cerita dititikberatkan pada kisah dan nasihat baik sebagai suami-istri, dalam berkeluarga, menjaga lingkungan, maupun berladang. Selain itu, pantun yang juga dibawakan adalah lalakon “Ciung Wanara”, yang mengisahkan tentang bagaimana kehidupan para karuhun atau leluhur masyarakat Baduy pada masa lalu. Tata cara perikehidupan leluhur merupakan panutan dalam perikehidupan masyarakat Baduy sekarang.

Untuk selamatan sunatan, pantun yang biasa disampaikan adalah lalakon Lutung Kasarung. Lutung Kasarung secara harfiah berarti lutung yang tersesat adalah legenda masyarakat Sunda yang menceritakan tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari kahyangan yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet). Dalam perjalanannya di bumi, sang lutung bertemu dengan putri Purbasari Ayuwangi yang diusir oleh saudaranya yang pendengki bernama Purbararang. Lutung Kasarung adalah seekor makhluk yang buruk rupa, namun pada akhirnya ia berubah menjadi pangeran tampan. Mereka akhirnya mengawini Purbasari memerintah di kerajaan Pasir Batang dan kerajaan Cupu Manadala Ayu bersama-sama.

Kegiatan sunatan biasanya dilakukan secara massal, dan selamatannya berlangsung selama tiga malam. Selama tiga malam itulah cerita tersebut disampai secara bersambungan. Anak-anak yang akan disunat wajib mengikuti prosesi ini. Cerita Lutung Kasarung pun bukan mengisahkan tentang kerajaan dan pernik peristiwa di dalamnya, namun kisah tentang kera sakti yang bernama Lutung Kasarung berkelana dan selama pengelanaannya selalu berbuat baik dan mengajarkan keterampilan dan kepandaian kepada masyarakat. Karena cerita tersebut khusus diperuntukkan bagi anak-anak, maka biasanya ceritanya dibawakan dengan santai dan ceria. Tempat juru pantun menyampaikan pantunya dibuat khusus di depan rumah keluarga yang punya hajat atau di depan rumah kokolot. Waktu penyampaian pantun tidak seperti untuk orang dewasa yang hingga pukul 03.00—04.00 dini hari, tetapi berakhir sekitar pukul 12.00.

Kegiatan lain yang biasanya terdapat kegiatan memantun adalah selamatan rumah baru. Lalakon yang biasa dibawakan dalam selamatan rumah baru ini adalah “Mantang Jaya”. Cerita pantun ini tidak langsung berkaitan dengan rumah baru, tetapi lebih berfokus pada tata cara berladang. Dalam kepercayaan masyarakat Baduy, Mantang Jaya adalah seorang peladang yang baik, rajin, dan sangat berhasil dalam perladangannya. Mantang Jaya juga diyakini merupakan peladang yang pintar, membuka ladang paling luas dan mendapatkan hasil panen paling banyak. Dalam menyampaikan pantun “Mantang Jaya”, juru pantun memberikan suri teladan dari tokoh utama cerita ini.

PANTUN BADUY PENGUKUH TRADISI

Masyarakat di luar komunitas masyarakat Baduy biasa menerima pengetahuan dan berbagai wawasan ilmu dari sekolah, surat kabar, televisi, radio, majalah, buku, dan lain sebagainya. Namun tidak demikian yang dialami oleh Saudara kita pada masyarakat Baduy. Media yang disebutkan di atas semuanya ditabukan oleh adat Baduy. Berbagai wawasan informasi bagi masyarakat Baduy biasanya diperoleh dari pantun lewat para juru pantun atau tukang mantun. Sayangnya, masyarakat Baduy sekarang dengan populasi penduduk lebih 7000 jiwa itu, hanya memiliki enam orang juru pantun. Adapun keenam juru pantun tersebut adalah:
1. Ayah Karidah (sekitar 50 tahun) dari Kampung Cibeo (Baduy Dalam)
2. Ayah Ardi (sekitar 56 tahun) dari Kampung Cikartawana (Baduy Dalam)
3. Ayah Daina (sekitar 55 tahun) dari Kampung Cikeusik (Baduy Dalam)
4. Ayah Arwa (sekitar 56 tahun) dari Kampung Cicatang (Baduy Luar)
5. Ayah Arjaya (sekitar 50 tahun) dari Kampung Cikakal (Baduy Luar)
6. Ayah Anira (sekitar 47 tahun) dari Kampung Kadujangkung (Baduy Luar)

Juru pantun yang berasal dari Baduy Dalam biasanya memantun untuk kampungnya masing-masing, sedangkan juru pantun dari Baduy Luar biasanya memantun untuk berpuluh-puluh kampung. Sebagaimana diketahui bahwa kampung yang terdapat di Baduy Luar sekarang terdapat sebanyak lebih dari 50 kampung. Juru pantun dari Baduy Dalam dapat diundang untuk mantun di Baduy Luar, tetapi sebaliknya belum pernah terjadi juru pantun dari Baduy Luar memantun di Baduy Dalam. Menurut warga Baduy Luar, kualitas juru pantun dari Baduy Dalam lebih baik dibandingkan dengan yang berasal dari Baduy Luar, terutama dalam hal suara dan isinya.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa pantun sesungguhnya bukanlah pertunjukan atau hiburan untuk dipertontonkan di depan khalayak ramai. Pantun merupakan salah satu syarat dalam kegiatan ritual selamatan, baik sunatan, kawinan, rumah baru, maupun dalam kaitannya dengan prosesi perladangan. Isi pantun yang disampaikan juga pada dasarnya adalah gambaran dan ajaran keseharian masyarakat Baduy. Tidak ada isi cerita pantun yang mereka kenal sekarang berkaitan dengan kerajaan atau tokoh terkenal tertentu yang biasa terdapat dalam sastra lisan Jawa Barat pada umumnya seperti kerajaan Pajajaran, Pakuan, dan Galuh atau dengan tokoh Prabu Siliwangi dan sebagainya.

Kenyataan tersebut sangat berbeda dari pendapat Meijer (1891) dalam ”Taal-en Letterkunde der Badoej’s”, yang melaporkan temuan pantun-pantun hasil surveinya di daerah Baduy. Bahkan dalam tulisan itu, Meijer mengkritik tulisan terdahulu dari van Hoevel, D. Koorders, dan C.A Kruseman yang menurutnya bukan dari Baduy karena tidak dikenal oleh orang Baduy. Meijer sendiri melaporkan ada lima belas judul pantun Baduy, yakni Rangga Sena, Kuda Gandar, Langga Sari, Kuda Wangi, Kidang Panandri, Bima Wayang, Raden Tegal, Gajah Lumantang, Paksi Keling, dan Panambang Sari. Namun, judul pangtun yang masih sangat populer (pada saat itu) adalah Badak Singa, Ciung Wanara, Kidang Pananjung, Lutung Kasarung, dan Matang Jaya (Meijer, 1891:135). Dari cuplikan-cuplikan yang disampaikan oleh Meijer, umumnya memiliki latar cerita kerajaan Pajajaran, Kerajaan Pakuan, atau Kerajaan Galuh dengan tokoh-tokoh raja dan penguasa-penguasa daerahnya. Sebagai contoh dapat dicuplik dari pantun ”Langga Sari” sebagai berikut:

Ideuh, adi, sugan daek asup ulun kumawula
Ka seuweu ratu ti Pakuan, menak ti Pajajaran
Artinya:
Hai, adik perempuan, mungkin kamu mau tunduk (=menjadi istri)
Pada anak dari kerajaan Pakuan, ningrat dari Pajajaran
(Meijer, 1891:141)

Atau salah satu cuplikan lagi dari pantun ”Gajah Lumantang” sebagai berikut:

Nya didinya Taji Wira Kuning jeung adina tetep lembur matuh dajeuh maneuh,
Marentah sasama raja, reuhreuy nagara Pasir Batang Lembur Tengah:
Ngayajar pucuk kalapana, nguyupuk pucuk kawungna, nayektek pucuk jambena
Artinya:
Jadi Taji Wira Kuning menetap di sana dengan istrinya dan menjadi orang
Yang lebih tinggi dari raja-raja Pasir Batang Lembur Tengah:
Pohon kelapanya berderet, buah atepnya rimbun, pohon pinangnya banyak
(Meijer, 1891:140)

Cerita-cerita pantun yang dikenal oleh masyarakat Baduy sekarang agaknya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan pantun hasil temuan Meijer di atas. Kemungkinan Meijer mengumpulkan data pantun di daerah pinggiran wilayah Baduy (tidak masuk ke dalam wilayah Baduy). Apalagi dilaporkan juga oleh Meijer, ketika itu masih banyak dijumpai tukang mantun keliling yang bertujuan semacam ngamen untuk mencari uang (Meijer, 1891, 136). Di daerah sekitar Baduy sekarang tidak lagi dikenal tukang mantun keliling, dan jika ada perayaan sunatan atau perkawinan diisi dengan hiburan wayang golek, layar tancap, dan musik (organ atau dangdut).

Kenyataan lain bahwa walaupun terdapat judul pantun yang sama seperti di laporkan oleh Meijer atau biasa dikenal dalam masyarakat Jawa Barat, namun ternyata isi pantun yang dikenal oleh masyarakat Baduy sangat berbeda. Sebut saja, cerita ”Ciung Wanara”, misalnya yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat menceritakan tentang suksesi yang terjadi di kerajaan Galuh. Namun, dalam pengetahuan masyarakat Baduy, Ciung Wanara menceritakan tentang tuntunan hidup berdasarkan kehidupan para karuhun atau leluhur masyarakat Baduy pada masa lalu. Pada cerita populer “Lutung Kasarung” pun tidak menceritakan tentang kehidupan di kahyangan dan kerajaan, tetapi petualangan di belantara dan kampung-lampung, serta ajaran kehidupan yang baik dari si tokoh Lutung Kasarung.

Seandainya benar bahwa pantun Baduy sekarang tidak berubah sejak awal adanya, maka pantun bak oase di tengah padang gersang. Pantun Baduy merupakan suatu kearifan lokal masyarakat di tengah sedemikian banyaknya tabu yang berlaku pada masyarakat ini. Pantun menjadi pesan dan sekaligus saluran komunikasi dan pengetahuan tradisional masyarakat Baduy. Pantun yang sarat akan arahan dan aturan adat, keagamaan, serta ajaran perikehidupan itu, tak pelak menjadi pengukuh tradisi Baduy yang masih menabukan tradisi tulis, buyut teu meunang dirobah!!!.

DAFTAR PUSTAKA

Danasasmita, Saleh dan Djatisunda, Anis
1986 Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).
Ekadjati, Edi S.
1995 Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
Garna, Judistira
1988 “Perubahan Sosial Budaya Baduy”, dalam Nurhadi Rangkuti (Peny.). Orang Baduy dari Inti Jagat. Yogyakarta: Bentara Budaya, KOMPAS, Etnodata Prosindo, Yayasan Budhi Dharma Pradesa, hal. 47-55.
1993 “Masyarakat Baduy di Banten”, dlam Koentjaraningrat (ed.), Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Depsos RI, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial, dan Gramedia, hal. 120-152.
Iskandar, Johan
1992 Ekologi Perladangan di Indonesia: Studi Kasus dari Daerah Baduy, Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Djambatan.
Jacobs, Jul. Dan Meijer J.J.
1891 De Badoej’s. ’S-Gravenhage: Martinus Nijhoff
Permana, R.Cecep Eka,
2006 Tata Ruang Masyarakat Baduy. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: